9 September 2015
Jm 1 pm menunjuk pada arloji tua berkarat yang kubeli persis 2 bulan 5 hari yang lalu dinilai dengan ukuran kertas 35 ribu Indonesia. Ku ambil pen bertinta blackbold ala orang teras yang biasa nenteng koper hitam berisi kertas keramat merah api. Tapi pen hitam ini sama sekali tidak sesuai dengan buku tua usang berwarna hijau blusteran paduan warna hitam. 2 hari yang lalu baru saja diisolasi hitam tulang sampulnya yang hampir lepas.
Dalam benak tak sedikit pun merasa ciut nyali untuk mengurung niat dan meragukan langkah karna semua bernilai ketika digunakan, apapun itu. Melangkah tidak harus menunggu hujan reda atau disaat cuaca cerah. Sekalipun berada dipembaringan terakhir akan tetap melangkah meskipun dengan Tuhan yang berbeda.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat dimasa sulit, masa muda penuh warna dengan paduan rasa yang aduhaiii. Besar niatan  suatu saat ini bisa diceritakan kepada sahabat, keluarga, anak dan cucu  bahwa selagi bernafas perjuangan hidup akan terus berlanjut.

S U K S E S

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

LET'S WRITE AS HABIT!

Understanding Mindfulness Technique: Benefits and How to Practice It

MOTIVATION IN LEARNING FOREIGN LANGUAGE